SINOPSIS BUKU : EMPAT PENUNGGANG KUDA ; SEBUAH PERCAKAPAN YANG MEMICU REVOLUSI ATEIS

Apakah Anda percaya Tuhan? 

Sebuah pertanyaan yang nilainya kecil. Sekarang, Tuhan yang mana? Ganesha? Osiris? Musitari? Yehuwa? Atau, satu dari puluhan ribu dewa animisme yang disembah setiap hari diseluruh dunia.

Inilah tepatnya yang akan dilakukan buku ini. Memperdengarkan 4 orang yang berpikir dan berjuang keras, karena mereka telah babak belur dan diperangi secara publik seperti beberapa kaum intelektual belakangan ini.

WARNING : BUKU INI MENGANDUNG PERCAKAPAN YANG SANGAT EKSTREM TERHADAP AGAMA. JIKA ANDA TIDAK SIAP, JANGAN DIBACA!

Sam Harris adalah pakar neurosains dan filsuf

Christopher Hithencs adalah jurnalis dan kritikus sastra

Daniel Dennet adalah profesor filsafat

Richard Dawkins adalah ahli biologi evolusi

 

AGAMA vs SAINS

Diantara topik yang kami diskusikan adalah bagaimana agama dan sains dibandingkan dalam hal kerendahan hati dan kepongahan. Alam semesta yang mengembang, hukum fisika, konstanta fisika yang disetel dengan baik, hukum kimia, dan penggilingan lambat dalam pabrik evolusi. Hingga dalam waktu 14 miliar tahun, kita manusia harus ada.

Seolah-olah Pencipta Alam Semesta tidak memiliki hal yang lebih baik untuk dilakukan, selain menghitung jumlah tanda merah dan biru perilaku kita (Perbuatan baik dan dosa manusia). Kami dengan lantang menyatakan ketidaktahuan. 

Bagaimana kehidupan dimulai? Saya tidak tahu, tidak ada yang tahu.Tapi kami semangat bertukar hipotesis

Apa yang menyebabkan kepunahan massal pada akhir periode apokaliptik pada periode seperempat miliar tahun lalu? Tidak tahu, tapi kami memiliki hipotesisi menarik untuk dipikirkan.

Seperti apa rupa nenek moyang simpanse? Kami tidak tahu. Tapi kami tahu tempat ia hidup. Bukti molekuler memberikan kita waktunya, sekitar 6-8 juta tahun lalu.

Ketidaktahuan bagi seorang ilmuwan, adalah rasa gatal yang meminta untuk digaruk dengan menyenangkan. Ketidaktahuan, jika Anda adalah seorang teolog, adalah sesuatu yang harus dihilangkan dengan mengarang-ngarang ssesuatu tanpa rasa malu. Jika Anda adalah figur berotoritas seperti Paus, Anda mungkin melakukakannya dengan menyendiri dan berpikir, dan menunggu jawaban muncul dari kepala Anda, dan kemudian Anda nyatakan sebagai "wahyu". Atau Anda bisa melakukannya dengan menafsirkan teks zaman perunggu yang pengarangnya lebih bodoh daripada Anda. Para Paus dapat menyebarluaskan pendapat pribadi mereka sebagai dogma, tapi hanya jika pendapat pribadi itu mendapat dukungan sejumlah besar orang Katolik sepanjang sejarah - tradisi panjang keyakinan.

Sangat menarik untuk melihat bagaimana pikiran teologis bekerja. Para ilmuwan tahu kapan mereka tidak tahu jawaban sesuatu, tapi mereka tahu kapan bisa menjawabnya, dan mereka tidak malu-malu untuk menyatakannya. Bukan hal yang tidak sopan untuk menyatakan fakta yang diketahui saat buktinya memang ada.

KERENDAHAN HATI SAINS

Apa Problem Mendalam bagi kita? Apa pertanyaan yang mungkin selamanya berada diluar jangkauan kita? Darimana hukum fisika berasal? Apa yang mengatur konstanta fundamental fisika? Dan mengapa mereka tampak pas untuk menghasilkan kita? Fakta bahwa Sains belum dapat menjawab pertanyaan ini, membuktikan kerendahan hati Sains.


Betapapun improbabel entitas yang Anda coba jelaskan, mendalilkan adanya Tuhan Pencipta, tidak bisa membantu Anda. Karena Tuhan itu sendiri, membutuhkan penjelasan yang hampir sama.

Sebagai seorang ateis, Anda meninggalkan teman khayali Anda, melepaskan penopang penghibur: sosok Bapa Langit yang akan menyelamatkan Anda dari masalah.Tak ada kitab suci yang menjadi pedoman perilaku, panduan untuk membedakan yang benar dari yang salah.Anda adalah orang yang dewasa secara intelektual. Anda berdiri tegak dan menghadapi angin tajam realitas. Anda tidak sendiri: ada tangan-tangan hangat manusia di sekeliling Anda.

Kaum ateis memiliki keberanian intelektual untuk menerima kodrat realitas

Anda memiliki keberanian moral untuk sepenuh-penuhnya menjalani satu-satunya kehidupan yang Anda dapatkan: merangkul erat realitas, bersukacita atasnya, dan melakukan yang terbaik untuk akhirnya meninggalkannya dalam keadaan yang lebih baik dari saat Anda menemukannya. 

4 PENUNGGANG KUDA : SEBUAH PERCAKAPAN

RD : Dawkins ; DD : Dennett ; CH : Hitchens ; SH : Harris

Agama dan Kritik

RD : Salah satu hal yang kita semua pernah hadapi adalah tuduhan bahwa kita lancang atau arogan atau dengki atau tukang protes.

DD : Agama telah mengatur supaya mustahil untuk mengkritiknya tanpa dianggap kasar.

SH : Kukira kita semua menghadapi fakta bahwa agama dianggap tak boleh disertakan ke dalam arena kritik rasional melalui semacam cara yang formal.

CH :  Jika aku meragukan historisitas Nabi Muhammad, aku telah melukai perasaannya yang terdalam. Karena yang kita katakan memang menyinggung, tak lain tak bukan, inti dari semua orang yang taat beragama, dengan cara yang sama. Misalnya, kita menyangkal keilahian Yesus.

RD : Memang tidak boleh kasar sesuka hati, tapi kita boleh jauh, jauh lebih kasar soal hal-hal seperti itu. Sampai sekasar apa kita baru mereka tersinggung?

SH : Kita tidak hanya membuat orang tersinggung, kita juga mengatakan bahwa salah kalau mereka tersinggung. Fisikawan tidak tersinggung ketika pandangan mereka tentang fisika disanggah atau dibantah. Tidak seperti itu cara kerja pikiran rasional ketika berusaha untuk mencari kebenaran di dunia ini. Agama-agama mengklaim bahwa mereka merepresentasikan realitas, tetapi ada tanggapan jengkel, tribal, dan akhirnya berbahaya terhadap penentangan ide-ide ini.

DD :  Sadarkah kau bahwa kau mengerahkan semua upayamu dan semua hartamu demi memuliakan sesuatu yang cuma mitos? Jika aku mengatakan hal-hal ini tentang industri farmasi atau perusahaan minyak, apakah akan terasa kasar? Apakah kelewat batas? Tidak. : Aku ingin agama diperlakukan persis dengan cara kita memperlakukan industri farmasi dan minyak. Aku tidak anti perusahaan farmasi – aku menentang sebagian perbuatan mereka – tapi aku hanya ingin menempatkan agama pada bidang yang sama dengan mereka.

RD : Dan ada suatu proses historis yang berujung dalam imunisasi agama ini, sikap baper yang boleh dipakai oleh agama. 

Agama dan Pengalaman

SH : Tapi jelas ada orang yang punya pengalaman luar biasa, baik itu gara-gara mengonsumsi LSD atau karena bertapa di gua selama setahun. Orang bisa mempunyai pengalaman yang melampaui dirinya sendiri, dan agama sepertinya merupakan satu-satunya pilihan saat membahas pengalaman itu. Kita sedang membahas momen-momen paling penting dalam kehidupan orang dan tampaknya kita menghinanya, setidaknya dari sudut pandang mereka.

SH : Francis Collins, sang pelopor genom, yang mengatakan bahwa suatu hari saat mendaki gunung dia tercengang dengan bentang alamnya dan kemudian  berlutut dan menerima Yesus Kristus. Padahal tidak ada kaitannya sama sekali. 

Francis Collins (lahir 1950): genetikawan dan dokter AS; Direktur Institut Kesehatan Nasional, Bethesda, Maryland

SH : Ilmuwan, menurut pengalamanku, adalah orang pertama yang mengaku bahwa dirinya tidak tahu. Jika ilmuwan sudah mulai berbicara di luar bidang keahliannya, mereka langsung menjadi kurang tegas, dengan mengatakan hal-hal seperti, “Saya yakin ada orang lain di ruangan ini yang lebih tahu dari saya tentang ini, dan, tentu, masih ada data yang perlu dikumpulkan.

DD :  “Bagaimana jika aku salah?” . “Bagaimana jika aku salah?” Itu tidak masuk dalam repertoar mereka.

Doktrin & Krisis Iman

SH :  Seringnya, orang beragama tidak sulit dikalahkan tetapi sulit diyakinkan kala berargumen karena mereka justru mengatakan bahwa mereka senantiasa mengalami krisis iman. Malah itu ada doanya: “Tuhan, aku percaya. Tolonglah hamba-Mu yang tidak percaya ini.” Banyak orang hidup dengan cara yang ambivalen.

SH :  Mayoritas orang yang kukenal, yang menyebut diri mereka orang beriman, selalu melakukan itu. Tapi mereka agaknya sadar bahwa perkataan mereka tidak masuk akal. 

RD :  Itu jadi semacam mantra yang memaksa mereka untuk mengatasi keraguan dengan mengatakan, “Ya, aku percaya, aku percaya, aku percaya!” Karena sebenarnya mereka tidak percaya. 

SH :  Ada juga jurus pembantu yang aneh: diawali dengan premis bahwa keyakinan tanpa bukti itu luhur. Inilah doktrin iman.

CH : Tapi mereka suka anggapan bahwa itu tidak dapat didemonstrasikan, karena kalau begitu tidak ada yang perlu diimani.

SH :  Betapa kasarnya harapan kaum ateis bahwa harus ada bukti total untuk ini semua.

CH : Salah satu hal yang sepenuhnya membuktikan bahwa agama itu tipuan adalah kepercayaan pada mukjizat.

Kritik yang Sama dengan Kaum Ateis & Non-korelasi

SH :  Dan orang beragama melontarkan kritik yang sama dengan yang kita lontarkan terhadap agamaagama lain. Mereka menolak mukjizat semu dan klaim semu dan kepastian agama lain. Mereka melihat modus penipuan dalam iman orang lain. Dan mereka mampu melihatnya dengan cukup mudah.

CH : Jangan menilai agama dari orang-orang fundamentalisnya. Baiklah. Tengok Gereja Inggris, yang dua pemimpin seniornya baru-baru ini berkata bahwa banjir di Yorkshire Utara disebabkan oleh, antara lain, perilaku homoseksual.

Metafora &  Otoritas

RD :  Tentu saja Kitab Kejadian tidak untuk dipahami secara harfiah! Namun mereka tetap berkhotbah tentang perbuatan Adam dan Hawa, seolah-olah Adam dan Hawa pernah ada

DD : Bisa kau bayangkan ada pengkhotbah yang mengatakan, saat topik seperti itu diangkat, “Berikut ini semacam fiksi teoretis. Tidak benar, tetapi metafora yang sangat baik”? Tidak.

DD : Contoh, lihat saja masalah kreasionisme. Jika seseorang di gereja fundamentalis berpikir bahwa kreasionisme masuk akal karena pastornya berkata demikian, ya, aku bisa mafhum dan maklum. Kita semua menganggap benar perkataan dari orang yang kita hargai dan yang kita anggap berwibawa.

CH : “Uskup berkata demikian maka aku percaya,” kau menipu diri sendiri, menurutku – dan orang berhak berkata demikian.

SH : Karena orang beragama sering berargumen bahwa ilmu pengetahuan hanyalah sehimpunan janji yang belum terpenuhi dan kita semua mengandalkan otoritas: “Bagaimana kau tahu bahwa konstanta kosmologis adalah . . . ? Jadi, bedakan antara jenis kepercayaan pada otoritas yang kita praktikkan tanpa rasa takut dalam ilmu pengetahuan, dan dalam rasionalitas pada umumnya, dan jenis kepercayaan kepada pengkhotbah atau teolog, yang kita kritik.

RD :  Yang kita lakukan ketika kita, yang bukan fisikawan, percaya saja pada apa yang dikatakan para fisikawan, adalah bahwa ada sejumlah bukti yang menunjukkan bahwa para fisikawan telah menyelidiki persoalan itu – bahwa mereka telah melakukan eksperimen, bahwa makalah mereka telah ditelaah sejawat, bahwa mereka telah saling mengkritik, bahwa mereka telah dikritik secara masif oleh sejawatnya di seminar dan di kuliah.

DD : Dan ingat juga struktur yang ada; bukan cuma telaah sejawat saja. Tapi penting diingat bahwa [ilmu pengetahuan itu] kompetitif.

DD : Dan percayalah, jika mereka dengan berat hati mengakui bahwa itu adalah bukti, maka itu adalah bukti. Dan agama tidak seperti itu – sama sekali!

Masalah & Misteri

RD : Aku pernah ditanyai di pertemuan umum, “Tidakkah kemisteriusan teori kuantum sama dengan kemisteriusan Trinitas atau transsubstansiasi?” Dan jawabannya, tentu saja, [itu] dapat dijawab, dengan dua kutipan dari Richard Feynman. Satu, Richard Feynman berkata, “Jika kau menganggap dirimu sudah mengerti teori kuantum, kau belum mengerti teori kuantum.” Dia mengakui bahwa teori kuantum sangat misterius. Hal lain adalah prediksi-prediksi dalam teori kuantum terverifikasi secara eksperimental dengan tingkat ketepatan yang setara dengan memprediksi lebar Amerika Utara dengan akurasi yang selisihnya cuma setipis lebar sehelai rambut manusia. Jadi, teori kuantum itu didukung secara masif oleh prediksiprediksi yang tepat, meskipun kita tidak mengerti misteri interpretasi Copenhagen, apa pun itu. Sementara itu, misteri Trinitas tidak mencoba membuat prediksi apa pun, apalagi yang tepat.

DD : Ada dua jenis pertanyaan – masalah dan misteri. Masalah dapat dipecahkan, misteri tidak.2 Pertama-tama, aku tidak setuju. Tapi aku setuju dengan pembedaannya, dan mengatakan bahwa tak ada misteri dalam ilmu pengetahuan. Ada masalah; ada masalah yang mendalam. Ada hal-hal yang tidak kita ketahui; ada hal-hal yang takkan pernah kita ketahui. 

RD : Dan fisikawan yang blak-blakan akan berkata, “Peduli amat dengan naluri? Lihat saja matematikanya.”

DD : Mereka merasa nyaman hidup dengan alat-alat bantu itu.

SH :  Contoh sempurna tentang itu adalah dimensi di atas tiga, karena kita tidak bisa membayangkan dimensi keempat atau kelima.

RD :  Misalkan kau seorang psikolog yang sedang meneliti kepribadian, dan kau berkata ada lima belas dimensi kepribadian,

DD :  Bakteri juga tak bisa kulihat dengan mata telanjang. Aku bisa hidup tanpa itu.

CH :  Aku tidak ingin menyederhanakan, tetapi ini membuat argumennya sedikit lebih simpel: kita bersedia mengatakan bahwa ada banyak hal yang kita tidak ketahui. Tetapi yang Haldane katakan, kalau tidak salah, adalah bahwa alam semesta tidak hanya lebih aneh daripada yang kita kira, ia lebih aneh daripada yang bisa kita kira. Tapi kita tahu ada banyak sekali ketidakpastian. Itulah perbedaannya. Orang beriman harus mengatakan, tidak hanya bahwa Tuhan ada – pernyataan deis bahwa alam semesta boleh jadi diciptakan dan dikendalikan oleh sosok ilahi, yang tidak bisa buktikan salah – tetapi bahwa mereka mengetahui isi pikiran sosok ilahi tersebut.

SH : Sekalipun misteri menjadi pil pahit yang akhirnya harus kita telan, dan secara kognitif kita tak mampu menguak kebenarannya, tidak berarti ada ruang bagi teisme.

SH : Namun, mereka mengklaim kesempurnaan wahyu.

Kitab Suci

CH : Apa pendapat kita tentang buku Victor Stenger yang mengatakan bahwa sekarang kita bisa membuktikan ketiadaan Tuhan secara ilmiah?

Victor Stenger (1935–2014): fisikawan partikel, filsuf, dan penulis ilmu pengetahuan populer AS. Karya-karyanya meliputi God: The Failed Hypothesis. How Science Shows that God Does Not Exist (New York: Prometheus, 2007). Dalam buku tersebut, dia dapat dianggap berkata bahwa eksistensi Tuhan sudah dibuktikan salah.

DD : Tuhan yang mana?

Harris: Mata rantai terlemahnya adalah klaim mendasar tentang kitab-kitab suci – anggapan bahwa kita tahu Alkitab adalah firman sempurna dari tuhan yang mahatahu.  Jika Alkitab bukan buku ajaib, agama Kristen menguap. Jika Al-Qur’an bukan buku ajaib, agama Islam menguap. Jika Alkitab mengandung penjelasan tentang DNA dan listrik dan hal-hal lain yang akan menakjubkan kita, baik, kita akan tercengang, dan harus membicarakan sumber pengetahuan ini. 

Tantangan Ateisme

SH : Adakah argumen apa pun yang mendukung iman, tantangan apa pun terhadap ateisme kalian, yang membuat kalian terdiam sejenak? 

RD :  Menurutku yang terdekat adalah ide bahwa konstanta-konstanta fundamental alam semesta terlalu bagus untuk terjadi secara kebetulan. Dan bagiku hal itu memang tampak membutuhkan penjelasan jika benar. Victor Stenger tidak menganggapnya benar, tapi sebaliknya bagi banyak fisikawan. Tentu itu sama sekali tidak menunjukkan adanya kecerdasan kreatif, karena itu menyisakan masalah: menjelaskan dari mana asalnya kecerdasan itu. Dan suatu kecerdasan kreatif yang cukup kreatif dan cukup cerdas untuk menyetel konstantakonstanta alam semesta dengan halus untuk menghasilkan kita harus disetel dengan jauh lebih halus daripada

CH :  Satu-satunya argumen yang bagiku cukup menarik – dan argumen ini mendukung iman maupun teisme – adalah yang mungkin bisa diistilahkan argumen tolak bala, ketika orang mengatakan, “Terpujilah Tuhan atas semua ini. Semua nikmatnya patut kita syukuri.” Itu memang bentuk kerendahan hati. Menurutku, agama memang, atau bisa, membantu orang menghindari keangkuhan, secara moral dan intelektual.

RD :  Aku pernah berargumen dengan seorang biolog terhormat dan pengajar cemerlang tentang evolusi, tapi tetap percaya pada Tuhan. Kataku, “Kok bisa? Bagaimana ceritanya?” Balasnya, “Aku menerima semua argumen rasionalmu. Namun, ini iman.” Kemudian, dia mengucapkan kata-kata keras ini kepadaku: “Ada alasan ini disebut iman!” Dia mengatakannya dengan sangat tegas, hampir-hampir agresif: “Ada alasan ini disebut iman.” Dan baginya, itu jurus pemungkas. Kita tidak bisa membantahnya, karena itu iman. Dan dia mengatakannya dengan bangga dan menantang, bukan dengan penyesalan. 

CH : “Jika itu nyata bagi mereka, kenapa kau tidak bisa menghargainya?” 

SH : Seorang profesor  fisika menghampiriku setelah ceramah selesai dan memberi tahuku bahwa dia membawa salah satu mahasiswa pascasarjananya, seorang Kristen taat, yang cukup terguncang karena ceramahku, dan yang kutangkap dari ceritanya adalah inilah pertama kalinya imannya pernah ditantang secara eksplisit. Jadi tampaknya benar kalau dibilang bahwa orang bisa menempuh pendidikan untuk menjadi seorang ilmuwan tanpa pernah imannya ditantang, karena melakukan itu adalah hal yang tabu. Dan sekarang ada insinyur-insinyur di dunia Islam yang bisa membuat bom nuklir dan yang masih menganggap masuk akal bahwa orang bisa masuk surga dan mendapat tujuh puluh dua perawan. Dan ada orang seperti Francis Collins yang berpikir bahwa pada hari Minggu dia bisa berlutut di rumput berembun dan mengikhlaskan dirinya kepada Yesus karena merasakan kehadirannya pada air terjun beku, dan pada hari Senin dia bisa menjadi genetikawan fisik.

CH : Menurut teman kita Pervez Hoodbhoy, fisikawan besar dari Pakistan, ada orang yang berpikir jin, iblis, bisa dimanfaatkan kekuatannya untuk sebuah reaktor.

Pervez Hoodbhoy (lahir 1950): fisikawan nuklir Pakistan; penyokong kebebasan berbicara, pendidikan, dan sekularisme di Pakistan.   

Kontradiktif

RD : Seperti kata Sam, percaya satu hal pada hari Minggu dan satu hal yang begitu kontradiktif, atau tidak sesuai, di hari-hari lain.

RD : Tapi bagaimana bisa orang hidup dengan kontradiksi dalam dirimu?

Dunia Tanpa Iman

CH :  Apakah kita sebenarnya ingin melihat dunia tanpa iman? Kukira aku harus mengatakan tidak. Aku tidak berharap, atau ingin, melihat itu.

CH :  Aku ingin kubu kita makin tajam, dan kubu mereka makin terekspos. Tapi aku tidak bisa membayangkan [hal itu terjadi] dengan bertepuk sebelah tangan. 

CH : Aku ingin agar mereka hancur hingga ke akar-akarnya. Itu tanggapan primitif murni dalam diriku – mengenali kebutuhan untuk menghancurkan musuh untuk menjamin ketahanan hidupku. Aku sama sekali tidak tertarik dengan isi pikiran mereka.

RD : Setelah memenangkan perang melawan agama, kita bisa kembali ke ilmu pengetahuan atau apa pun praktik kita, dan kita bisa berargumen dan menalar tentang itu. Ada banyak argumen, yang merupakan argumen yang layak, untuk diadakan.

Ilmu Sihir

SH : Kau bisa mengatakan bahwa setiap budaya pernah percaya pada penyihir, percaya pada kemujaraban mantra, ilmu sihir itu terlalu lazim dan kita tidak akan pernah bisa menyingkirkannya, jadi buat apa mencoba. Atau kita bisa mencoba hanya sebagai persoalan dialektika, tetapi ilmu sihir tetap akan ada. Namun, ilmu sihir telah lenyap, hampir tanpa pengecualian. Maksudku memang ada komunitas tertentu yang—

SH : Maksudku niat untuk membunuh tetanggamu karena kau kira ada mekanisme kausal yang dengannya mereka, melalui niat jahat mereka, bisa secara gaib merusak padimu, atau mengguna-gunai anakmu. Hal ini datang bersamaan dengan ketidaktahuan mengenai ilmu kedokteran.

Evolusi Avirulen

DD : Yang kita ingin lakukan adalah mendukung evolusi ke-avirulen-an. Kita ingin menyingkirkan jenis yang berbahaya. Aku tidak peduli tentang astrologi karena menurutku tak cukup berbahaya. 

CH :  Apa kau ingin tak seorang pun ke gereja pagi ini di Amerika Serikat?

Penyingkiran Iman

CH : Tapi aku sungguh ingin mendengar: apa kalian ingin mengatakan bahwa kalian mengharapkan dunia tanpa orang beriman?

RD : Dan sungguh pengalaman yang luar biasa kalau menjalani hidup di dunia dan mengerti mengapa kau hidup di dunia, dan mengerti apa yang membuatnya begitu, dan mengerti tentang bintang-bintang yang nyata, mengerti tentang astronomi, bahwa pemiskinan namanya kalau itu direduksi menjadi sekerdil astrologi. Dan menurutku kita bisa mengatakan hal yang sama tentang agama. Alam semesta adalah tempat yang agung, indah, dan menakjubkan, dan kepercayaan pada jin dan pencipta supernatural dan campur tangan ilahi adalah hal yang remeh dan picik dan murahan. Menurutku kita bisa membuat argumen estetis bahwa sebaiknya iman disingkirkan. 

Totalitarianisme Agama

SH :  Ada kekhalifahan, yakni negara Islam tempat Islam meraja dan tidak diganggu dari luar sehingga Islam bisa setotaliter dan sepuas mungkin dengan dirinya sendiri, dan kekurangan-kekurangan inheren pada kredonya tidak terlihat. Ilmuwan politik Samuel Huntington berkata, “Islam memiliki perbatasan yang berdarah.” Pada perbatasannyalah, pada perbatasan antara Islam dan modernitas, kita menyadari ada masalah. Ada konflik antara Islam dan modernitas.

Samuel Huntington (1927–2008): ilmuwan politik dan penasihat presiden AS; pada 1993 mengemukakan teori “benturan peradaban”nya, dipresentasikan dalam bentuk buku sebagai The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996). 

CH : Tapi ini masalahnya, apakah kita berpikir, seperti yang dengan teguh kuyakini, bahwa totalitarianisme adalah hal hakiki dalam semua agama karena ia wajib menginginkan suatu otoritas yang mutlak, tak tertantang, abadi.

CH : Menurutku, Islam menyatakan hal itu dengan cara yang paling mengkhawatirkan, karena ia datang sebagai agama monoteis yang ketiga dan berkata: “Tak perlu lagi ada kelanjutan. Inilah yang terakhir. Kami mengakui bahwa sebelumnya sudah pernah ada firman-firman dari Tuhan. Kami tidak mengklaim status eksklusif, tapi kami mengklaim status final. 

CH : Di dunia kita, malapetaka kalau sampai orang berkata, “Tidak perlu bertanya lebih lanjut. Kau telah mendapatkan semua yang perlu kau tahu. Sisanya hanyalah komentar.” Itu hal yang paling jahat dan berbahaya, dan itulah klaim yang dibuat Islam yang tidak dibuat oleh yang lain dengan cara yang persis sama.

CH : Islam tidak dihargai dalam agama Kristen atau Yahudi, tetapi [agama-agama lain ini dihargai] dalam Islam. Mereka menerima semua ihwal dari agama Yahudi. Mereka mengasihi Abraham dan kerelaannya untuk mengorbankan putranya. Mereka mencintai semua itu. Mereka sangat menghormati Kelahiran Perawan, bagian agama Kristen yang paling tidak masuk akal. Mereka menganggap semua itu hebat. “Kalian semua boleh bergabung, tapi kamilah pemilik firman terakhir.” Itu mematikan. Dan menurutku eksistensi kita tidak sesuai dengan dakwah semacam itu.

Rasa & Historis

SH : Bantahan klasik terhadap kita semua adalah, “Buktikan kepadaku bahwa kau mencintai istrimu” – seolah-olah itu argumen yang pasti menang melawan ateisme: tidak dapat dibuktikan. Tapi jika dikupas sedikit, sebetulnya dapat dibuktikan. Dapat didemonstrasikan. Kita tahu apa yang kita maksud dengan “cinta”. Tapi ada suatu ranah suci yang tidak ditangkap dengan mudah oleh ilmu pengetahuan, dan wacana ilmiah telah menyerahkannya pada wacana religius.

 SH : Tapi bagiku hal itu bahkan tidak ditangkap dengan baik oleh seni, sama seperti cinta tidak ditangkap dengan baik oleh seni. Dan belas kasih juga. Mereka dapat direpresentasikan dalam seni, tetapi tidak dapat direduksi menjadi seni. Belas kasih dalam bentuknya yang paling murni tidak bisa kita temukan di museum.

RD : Kembali ke masalah apakah kita ingin melihat gereja kosong: Kurasa aku memang ingin melihat gereja kosong. Namun, yang tidak ingin kulihat adalah ketidaktahuan tentang Alkitab.

RD :Karena seseorang tidak bisa memahami sastra tanpa mengetahui Alkitab. Seseorang tidak bisa memahami seni, tidak bisa memahami musik. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa dipahami, karena alasan-alasan historis – tapi alasan historis itu tidak dapat dihapus.

RD :  Kita bisa hanyut di dalamnya, sama seperti kita bisa hanyut di dalam karya fiksi tanpa percaya bahwa tokoh-tokohnya nyata.

DD :  Tapi kau yakin ingin melihat gereja-gereja kosong? Kau tidak bisa membayangkan sejenis gereja, mungkin di mata mereka sih gereja yang telah kehilangan hakikatnya: gereja yang memiliki ritual dan kesetiaan dan tujuan dan musik, dan menyanyikan lagunya dan menjalankan ritualnya, tetapi yang irasionalitasnya telah dibersihkan. 

RD : Baik, tempat untuk upacara pemakaman dan pernikahan—  

CH : Kalau aku Katolik murtad dan aku bermenung tentang pemakamanku, tapi bukan berarti aku— 

DD : Kau hanya mau Misa berbahasa Latin. 

SH : Apa maksudmu dengan “sesuatu seperti iman”?

DD : Seperti iman bagaimana?

CH : Sesuatu seperti kepercayaan bahwa pasti ada lebih banyak dari yang bisa kita ketahui.

SH : Kita tahu bahwa ada lebih banyak dari yang sekarang atau kelak bisa kita ketahui.

CH : Itu pokok awalku saat mengatakan bahwa jika kita bisa menemukan cara untuk menegakkan beda antara yang numinus dan yang takhayul.

DD : Kita tidak bisa mengiyakan kepercayaan dan praktik orang Aztec, tapi kita bisa terpesona, dan ingin melestarikan, oleh arsitektur mereka dan banyak corak lain dari kebudayaan mereka. Tapi bukan praktik mereka dan bukan kepercayaan mereka.

DD : Bagian kisah Kristiani yang itu memang bagus sekali – kisahnya indah! Dan kita bisa menyukai setiap detailnya tanpa memercayainya. 

RD : Filsuf Freddie Ayer1 pun dulu berdoa sebelum makan, dan dia berkata: “Saya tidak akan mengatakan hal yang palsu tetapi saya tidak keberatan mengucapkan pernyataan yang tidak bermakna.”

Alfred Jules Ayer (1910–89), dikenal sebagai A.J. atau “Freddie” Ayer: filsuf Inggris; karyanya meliputi Language, Truth and Logic (1936), di mana dia mengemukakan “prinsip verifikasi”; Profesor Wykeham untuk Logika di Oxford dari 1959.  

Adil dalam Kritik

RD : Sam bertanya apakah kita harus bersikap adil dalam hal mengkritik berbagai agama, dan kau tadi membahas keadilan dalam membahas hal baik versus buruk.

CH : Apa semua agama itu sama buruknya?

RD : Ya, apakah agama Islam lebih buruk dari agama Kristen.

SH : Media mengatakan bahwa orang Muslim punya kaum ekstremisnya, dan kita pun begitu. Ada jihadis di Timur Tengah dan di sini ada orang yang membunuh dokter aborsi. Dan persamaan itu tidak jujur. Kekacauan yang sedang terjadi di bawah payung Islam tidak dapat dibandingkan dengan fakta bahwa ada dua orang di sini yang dalam waktu satu dekade membunuh praktisi aborsi. Dan ini salah satu masalahku dengan praktik ateisme: kita terbebani saat harus memberi kesan bahwa kita menyebarkan terang kritik dengan setara ke segala penjuru setiap saat, padahal kita bisa, untuk persoalan tertentu, meraih persetujuan dari mayoritas orang religius.  Jadi bagiku sepertinya begitu kita berfokus pada hal-hal partikular, kita meraih dukungan dari orang banyak, tapi ketika kita berdiri di atas benteng ateisme dan mengatakan bahwa semuanya keliru, kita kehilangan 90 persen dari tetangga kita.

RD :  Ya, aku yakin itu benar. Di sisi lain, perhatianku terhadap kejahatan-kejahatan agama tidak sebesar perhatianku terhadap benar tidaknya agama. Dan aku sungguh peduli tentang fakta yang berlaku: adakah, secara faktual, sosok pencipta supernatural atas alam semesta ini? Dan aku sungguh peduli tentang keyakinan yang keliru itu. Jadi, meski aku juga peduli tentang kejahatankejahatan agama, aku siap bersikap sama rata, karena tampak bagiku mereka semua membuat klaim ini secara setara.

CH : Aku takkan pernah melepas klaim bahwa semua agama itu sama kelirunya. Dan alasannya: karena mereka keliru ketika lebih memilih iman daripada akal budi. Dan setidaknya secara laten, mereka sama berbahayanya.

CH : Karena pikiran harus mengalah. Kesediaan untuk membuang satu-satunya hal yang menjadikan kita primata yang lebih tinggi: kemampuan akal budi.  

CH : Dalai Lama mengklaim dirinya sebagai raja dewa, raja turun-temurun, dewa yang diwariskan, secara hakiki. Itu gagasan yang paling menjijikkan. Dan dia menjalankan kediktatoran abal-abalnya di Dharamsala. Dan memuji tes-tes nuklir. Memang sebatas lingkupnya sendiri yang terbatas – tapi kejahatan yang sama hadir di sana.

CH : Begini, setiap kali aku berdebat dengan pembela Islam mereka semua berkata, “Kau baru saja menyinggung perasaan satu miliar umat Muslim,” seolah-olah mereka mewakili semuanya. Seolah-olah, dan jelas ada ancaman di sini, ada bahaya, nada militer dalam kata-kata mereka. Dengan kata lain, kalau saja mereka berkata, “Kau baru saja menyinggung perasaanku sebagai seorang Muslim,” nadanya tidak terdengar sama, ‘kan? Jika hanya mereka sendiri yang percaya pada Nabi Muhammad. Tapi, tidak, ada semiliar yang percaya. Dan, omong-omong, yang tersirat di situ adalah, “Awas kau!” 

SH : Betul, tapi kau tidak akan susah tidur karenanya.

Unpredictable

CH :  Bahwa pada 1960-an akan ada ancaman besar dari fundamentalisme agama Yahudi. Jumlah yang relatif kecil, tetapi di tempat yang sangat penting, tempat yang strategis, saat memutuskan untuk mencoba menghadirkan Mesias dengan mencuri tanah orang lain dan mencoba memicu kiamat. Jumlahnya sangat kecil, tetapi konsekuensinya malapetaka. Dulu kita tidak berpikir bahwa agama Yahudi bisa semengancam itu, sebelum gerakan Zionis mencaplok gerakan Mesianik, atau melebur dengannya – karena kaum Mesianis dulu bukan Zionis, sebagaimana kalian ketahui. Kita takkan pernah tahu apa yang akan terjadi berikutnya.

SH : Ada satu pokok yang kau sampaikan di sini yang menurutku perlu kita membahas lebih lanjut, yakni bahwa bahaya nirakal budi tidak pernah dapat terantisipasi. Kita hampir tidak bisa memprediksi berapa banyak nyawa akan menjadi korban dogmatisme, karena konfliknya dengan realitas muncul tiba-tiba.

CH : Aku tentu akan berkata pada 1930-an bahwa Gereja Katolik adalah organisasi paling mematikan, karena aliansinya dengan fasisme yang eksplisit dan terbuka dan busuk. Gereja yang jauh paling berbahaya. Tapi kini aku tidak akan bilang bahwa Paus adalah otoritas religius paling berbahaya. Barang tentu, Islam adalah agama paling berbahaya, dan mungkin karena tidak ada paus yang bisa menyuruhnya berhenti melakukan sesuatu, membuat maklumat berisi—

CH : Ya, tentu saja. Tapi aku tetap harus mengatakan bahwa agama Yahudi adalah akar dari masalahnya.

SH : . Jika umat Islam tidak peduli tentang Palestina, para pemukim boleh berusaha sesuka hati mendatangkan Mesias. Tidak akan ada masalah. Masalahnya hanya konflik antara klaim-klaim atas properti. Kedua belah pihak bersalah, tapi satu-satunya alasan kenapa 200.000 pemukim berpotensi untuk memicu konflik global adalah karena ada satu miliar orang yang sangat peduli apakah para pemukim itu membongkar Masjid Al-Aqsa dan— 

CH : Karena mereka berkeyakinan bahwa sebagian dari Bumi ini lebih suci dari bagian yang lain – keyakinan paling gila atau irasional atau tidak senonoh.

Ateis Pihak yang Kalah

SH : Apa harapan dan ketakutan terbesar kita di sini?

SH : Dan adakah sesuatu yang kita bisa perbuat, selain dari kritik belaka? Adakah langkah-langkah praktis? Dengan sumber daya yang cukup, apa yang bisa kita lakukan untuk menyebabkan perubahan gagasan yang signifikan?  

CH : Kurasa diriku berada di pihak yang kalah secara politis dan di pihak yang menang secara intelektual.


My Point of View

Buku ini menurut saya mewakili alasan & pandangan orang ateis diseluruh bumi. Saya bukan seorang ateis, tapi mengetahui suatu sudut pandang golongan bukanlah sesuatu yang salah menurut saya. Dua kata yang bisa saya berikan kepada 4 tokoh didalam buku ini adalah : "Skeptic" dan "Rebel". Dua sifat yang ditunjukkan dalam setiap pernyataan mereka kepada agama dan orang yang mempercayainya. Mereka memang tidak sampai pada kesimpulan atas pertanyaan : "Jikalau pada akhirnya seluruh penduduk bumi adalah ateis, apakah kehidupan akan lebih baik ketimbang sekarang?". Ya mereka tidak membahas hingga titik itu. Diskusi mereka saya rasa hanya berisi keengganan mereka untuk sesuatu yang tidak pernah ada buktinya hingga sekarang. Dan klaim mereka sebagai pihak yang kalah saya rasa benar dan selamanya akan seperti itu. 

Seperti prinsip hidup saya :

" Kebenaran itu relatif.  Untuk mengetahui alasan seseorang atau golongan melakukan sesuatu yang Anda anggap salah memang tidak membuat itu menjadi benar. Tapi manusia tidak pernah didesain untuk menjadi hakim bagi sesamanya, namun untuk menjadi pendengar"

Jadi menurut saya, buku ini bagus untuk menambah pengetahuan mengenai pandangan kaum ateisme.

 

Comments