Pandangan Saya terhadap Agama : Do not enter, God only!!!
Apakah pikiran memiliki batas?
Pikiran menurut saya memiliki 2 konsepsi umum. Pikiran non-abstrak mengenai peristiwa dan fakta yang telah terjadi, dan pikiran abstrak yang ada pada ranah keyakinan, pandangan, prinsip, kepercayaan pada dogma, etika dan falsafah hidup.
Di era saat ini, kebebasan pikiran manusia dianggap masih terbatas pada wilayah-wilayah yang disebut arsiran ask-able region. Sebenarnya hal itu telah didobrak oleh budaya Barat melalui filsuf dan ilmuwan terkenal seperti Aristoteles, Bertrand Russell, Charles Darwin, hingga Richard Dawkins. Namun bagi Bangsa Timur, hal tersebut dianggap tidak lazim dan dianggap sebagai kehendak/wilayah Tuhan. Analoginya sih wilayah arsiran ini seperti ruang staff only pada suatu kantor perusahaan atau pergudangan.
"Do not enter, Staff Only"
| do not enter, God only - religion |
Gantikan saja kata "staff" dengan "Tuhan". Itulah yang hingga saat ini dipercaya sebagai agama, dan bagi Bangsa Timur hingga saat ini dianggap sebagai wilayah yang "tabu" untuk dipertanyakan. Di beberapa buku jelas disebutkan bahwa kepercayaan merupakan dogma yang berisi doktrin yang mengandung seperangkat aturan yang tidak dapat diperdebatkan. Alih-alih mempertanyakan berbagai kisah dan kebenaran didalam agama, setiap penganut agama diajakarkan sebagai hamba yang menerima begitu saja apapun yang disampaikan melalui Kitab Suci. Semua yang terkandung didalamnya dianggap sebagai suatu kebenaran mutlak, dan merupakan tindakan yang tergolong dosa ketika umat mulai mempertanyakan kebenaran kisah apapun didalamnya.
Saat saya kecil hingga dewasa, saya adalah seorang yang begitu "manut saja" mengenai apapun yang dibahas agama. Dalam setiap ibadah, hal yang pertama saya cari saat pendeta berkotbah adalah tafsiran. Tafsiran yang selalu saya cari biasanya melalui link ini : Tafsiran Alkitab. Alasan saya sangat sederhana, tafsiran memilki 2 tujuan utama menurut saya :
Pertama, menjelaskan makna kata secara harafiah. Kedua, menjelaskan keterikatan satu ayat dengan ayat lainnya. Mengenai khotbah dari pendeta, saya adalah seorang yang teliti, dalam arti selalu berusaha mengupas hingga dalam firman tersebut dan direfleksikan ke kehidupan saya.
Saat saya beranjak dewasa, saya dibingungkan dengan banyaknya oknum yang ditangkap terkait beberapa kasus. Saya sadar bahwa manusia memang berdosa, tapi yang lebih berdosa menurut saya adalah melakukan dosa dibalik topeng agama yang sejatinya benar. Jika kita memang seorang yang tidak tahan terhadap segala nafsu duniawi (harta, jabatan, dan lainnya), jangan pernah berani berdiri saat sumpah pengangkatan jabatan pendeta (pemimpin umat). Ini sama seperti kisah Ananias dan Safira di dalam Alkitab (Bible Kisah Para Rasul 5 : 1-11), yang pada akhirnya pasangan tersebut mati seketika. Terlalu instan rasanya hukuman yang diberikan Tuhan didalam Alkitab. Namun pada kenyataannya, masih banyak "orang suci" yang berani melakukan dosa dalam jabatan dan wewenang mereka (pada saat ini).
Terlalu aneh menurut beberapa orang ketika saya menilai agama dari oknum yang hanya segelintir. "Justru karena berdosalah orang malah membutuhkan agama", begitu pendapat beberapa orang. Namun ada satu kalimat yang begitu berbekas di benak saya ketika saya membaca satu artikel,
"Agama sejatinya adalah penistaan bagi agama lainnya"
Kalimat itu menurut saya mutlak benar. Setiap agama adalah eksklusif bagi pengikutnya. Saya akan masuk surga karna saya percaya kepada Tuhan A, mereka tidak akan masuk surga karena mereka percaya kepada Tuhan B. Begitu juga berlaku sebaliknya bagi pengikut agama B. Hampir semua teman saya saat kuliah memiliki keyakinan yang berbeda dengan saya.
Apakah saya akan senang dan bahagia saat di akhirat nanti melihat mereka di "bakar" di neraka hanya karna tidak seTuhan dengan saya?
Tidak, saya ingin mereka berada ditempat yang sama dengan yang saya inginkan. Tapi apakah itu mungkin menurut agama saya? Tidak, karena mereka tidak menyembah dan percaya kepada Tuhan saya. Apakah mereka jahat? Tidak, bahkan mereka sering membantu dan menghormati saya. Meskipun mereka baik, apakah mereka bisa masuk Surga? Tidak ada yang tahu, tapi menurut agama saya itu tidak mungkin.
Bagaimana pandangan saya saat ini?
Saya memilih jadi manusia yang berTuhan, bukan beragama. Apakah sama dengan Atheis? Jelas tidak. Apakah saya seorang agnostik? Tidak, agnostik memilih untuk tidak menolak maupun menerima kepercayaan akan Tuhan. Dari beberapa buku yang saya baca, saya merasa lebih ke arah aliran panteisme. Segalanya adalah Tuhan, Tuhan adalah segalanya. Tuhan adalah alam semesta, alam semesta adalah Tuhan.
Apakah ada agama universal? Ada, agama moral.
Moral menurut saya adalah memberikan apa yang kita terima dan diterima secara luas. Jikalau Anda tidak terima ketika orang lain berkata : "dasar bodoh!" kepada Anda, ya jangan ucapkan itu kepada orang lain, sesimpel itu. Saya memiliki pandangan hidup bahwa manusia diciptakan sebagai seorang pendengar. Kita bukan sebagai hakim bagi sesama kita yang kita anggap salah, tapi kita adalah pendengar.
Saat ini saya memiliki hobi membaca buku-buku yang membahas wilayah non abstrak, seperti mengenai Tuhan, etika, kepercayaan dan agama. Blog ini mungkin lebih banyak membahas sinopsis dan rangkuman dari buku-buku yang saya baca. Buku-buku yang tidak hanya membahas persoalan di daerah "tabu", namun juga di banyak aspek. Saya saat ini mulai mencoba untuk berpikir secara bebas. Pikiran penulis buku berhasil membawa hasrat pikiran saya menyelam ke daerah yang tidak pernah saya masuki sebelumnya. Tanpa berniat mengucilkan atau mengolok agama ataupun kepercayaan apapun, tulisan ini murni hanya untuk merangkum pikiran penulis.
Comments
Post a Comment